Ekonomi

Mengetuk Pintu Persyarikatan: BSN Menyemai Asa di Ladang Ekonomi Muhammadiyah

184
×

Mengetuk Pintu Persyarikatan: BSN Menyemai Asa di Ladang Ekonomi Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Tangerang — Di sebuah siang yang terik di Tangerang, pena-pena ditautkan di atas lembar Nota Kesepahaman. Namun yang sesungguhnya ditandatangani bukan sekadar dokumen kerja sama, melainkan sebuah ikhtiar panjang: menghadirkan denyut baru bagi perbankan syariah yang selama satu dekade tertahan di angka 7–8 persen pangsa pasar nasional.

PT Bank Syariah Nasional (BSN) resmi melangkah masuk ke ekosistem ekonomi Muhammadiyah—sebuah persyarikatan yang akarnya menjalar dari ruang kelas hingga ruang rawat, dari mimbar dakwah hingga denyut usaha warga.

Di sinilah, bank tak lagi berdiri sebagai menara sunyi, melainkan menjemput ekosistem yang telah matang oleh sejarah dan kepercayaan.

Direktur Utama BSN, Alex Sofjan Noor, menyebut langkah ini sebagai strategi sadar arah. Inklusi keuangan syariah yang baru menyentuh 13,41 persen dinilai tak cukup digerakkan dengan menunggu. “Kami tidak lagi menanti pasar datang. Kami hadir di tengah ekosistem yang telah tumbuh dan dipercaya,” ujarnya.

Muhammadiyah, dengan ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di sektor pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial, menjadi ruang kolaborasi yang luas. BSN memposisikan diri sebagai pengelola likuiditas dan penyedia solusi cash management digital—mulai dari layanan payroll, virtual account, hingga integrasi QRIS bagi ratusan universitas dan rumah sakit di bawah naungan persyarikatan.

Kerja sama ini tak berhenti pada institusi. Kartu debit co-branding Muhammadiyah–BSN diluncurkan untuk menjangkau jutaan warga persyarikatan secara langsung. Seluruh layanan terintegrasi dalam aplikasi Bale Syariah by BSN—sebuah ruang digital yang membuka akses pembiayaan perumahan syariah hingga investasi emas secara cicilan.

Ekspansi ini berdiri di atas fondasi yang kian kokoh. Pasca-transformasi dan proses akuisisi Victoria Syariah oleh BTN Syariah, BSN mencatatkan total aset Rp72,9 triliun per Desember 2025, dengan 118 outlet yang tersebar secara nasional. Penetrasi ke ekosistem Muhammadiyah diyakini akan memperkuat portofolio dana pihak ketiga (DPK) sekaligus memperluas jangkauan layanan syariah.

Bagi BSN, perbandingan dengan Malaysia—yang pangsa pasar perbankan syariahnya telah melampaui 40 persen—bukan sekadar angka pembanding, melainkan cambuk kesadaran. Bahwa di negeri dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia, ekonomi syariah tak seharusnya berjalan tertatih.

Di sisi lain, Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hilman Latief, menegaskan bahwa kolaborasi ini sejalan dengan visi persyarikatan untuk memperkuat ekosistem syariah nasional. Dengan ratusan ribu pegawai di amal usaha, Muhammadiyah memandang penguatan pembiayaan sebagai kebutuhan strategis—termasuk rencana pengadaan perumahan subsidi dan non-subsidi bagi pegawai, karyawan, dan aktivis di seluruh Indonesia.

Di titik temu inilah bank dan persyarikatan berjumpa: satu membawa instrumen keuangan, satu lagi membawa jejaring kepercayaan. Jika kolaborasi ini dijaga dengan integritas dan keberlanjutan, maka ia bukan hanya akan menggerakkan angka-angka di laporan keuangan, melainkan menumbuhkan keyakinan bahwa ekonomi syariah dapat menjadi arus utama—bukan sekadar pilihan pinggir.