swarabhayangkara.com, Jakarta – Menjelang genap satu tahun kepengurusan Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI), Sekretaris Jenderal AMKI Dadang Rahmat menegaskan bahwa organisasi tersebut lahir dari semangat kolektif para pendiri yang memiliki kepedulian terhadap masa depan industri media di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Menurut Dadang, gagasan pembentukan AMKI bukan berasal dari satu individu, melainkan hasil diskusi sejumlah pemilik media yang melihat perlunya wadah baru untuk mengakomodasi perkembangan ekosistem media konvergensi di Indonesia.
“Industri media berubah sangat cepat. Media cetak, media siber, televisi, platform digital hingga kreator konten kini berada dalam satu ekosistem yang saling terhubung. Karena itu diperlukan organisasi yang mampu menjawab tantangan perubahan tersebut,” ujar Dadang di Jakarta, Senin (29/6/2026).
Dadang menjelaskan, cikal bakal AMKI bermula dari pertemuan sejumlah pemilik media dalam rangka Hari Ulang Tahun Media Mitrapol yang digelar di salah satu hotel di Jakarta Barat.
Pertemuan tersebut dihadiri Tundra Meliala selaku Pemimpin KabarMetro, Umi Sjarifah selaku Pemimpin Sudut Pandang.id, Djamal Efendi selaku Pemimpin HarianBerita.id, wartawan senior Irmanto, Herdiana selaku Pimpinan Umum Media Seputar Publik, wartawan senior Rudi Sitompul, Berman Nainggolan, serta sejumlah pemilik media lainnya.
Dalam forum tersebut, para peserta membahas dinamika industri media yang terus berkembang seiring kemajuan teknologi digital. Dari diskusi itu muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang mampu mewadahi perusahaan pers, media digital, kreator konten, dan berbagai platform informasi dalam satu ekosistem media konvergensi.
“Melalui diskusi tersebut kami sepakat membentuk Asosiasi Media Konvergensi Indonesia sebagai wadah kolaborasi bagi pelaku industri media agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, para pendiri juga menyepakati susunan kepengurusan awal AMKI Pusat, yakni Tundra Meliala sebagai Ketua Umum, Dadang Rahmat sebagai Sekretaris Jenderal, Irmanto sebagai Wakil Sekretaris Jenderal, Umi Sjarifah sebagai Bendahara Umum, serta Djamal Efendi sebagai Wakil Bendahara Umum.
Selanjutnya, proses pembentukan organisasi dilakukan secara kolektif, mulai dari penyusunan konsep organisasi, pembentukan kepengurusan, penyusunan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), hingga proses legalisasi.
“AMKI dibangun dengan semangat kebersamaan. Ketua Umum memiliki peran penting membangun komunikasi eksternal dan memperluas jejaring organisasi. Sementara seluruh pengurus pusat maupun daerah menjalankan tugas sesuai bidang masing-masing. Semua saling melengkapi untuk membesarkan organisasi ini,” ujar Dadang.
Seiring perjalanannya, AMKI terus memperkuat konsolidasi organisasi di berbagai daerah. Namun, menurut Dadang, tantangan utama bukan hanya memperluas struktur kepengurusan, melainkan menghadirkan program yang memberikan manfaat nyata bagi perusahaan media dan seluruh anggota.
“Yang ingin kami bangun bukan sekadar organisasi yang besar secara struktur, tetapi organisasi yang mampu memberikan solusi bagi industri media, mulai dari peningkatan kompetensi sumber daya manusia, penguatan bisnis media, hingga adaptasi terhadap perkembangan teknologi digital,” katanya.
Ke depan, AMKI akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Dewan Pers, kementerian terkait, perguruan tinggi, Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), serta berbagai organisasi profesi guna mendukung pengembangan ekosistem media konvergensi di Indonesia.
Dadang menegaskan, semangat kolektif para pendiri harus tetap menjadi fondasi utama dalam perjalanan organisasi.
“AMKI lahir dari semangat kebersamaan. Karena itu, membangun dan membesarkan organisasi ini juga harus dilakukan bersama-sama. Keberhasilan AMKI bukan milik satu orang, melainkan hasil kerja seluruh pendiri, pengurus, dan anggota yang memiliki visi yang sama untuk memajukan industri media Indonesia,” tutupnya.
Menurutnya, organisasi yang besar bukan dibangun oleh satu tokoh, melainkan oleh kolaborasi yang mampu melahirkan banyak pemimpin serta menghadirkan solusi bagi tantangan zaman.







