NASIONAL

“Umrah dalam Kabin Kapital: Ketika Jamaah Dijual, Pemerintah Sibuk Menghitung Pita Peresmian”

23
×

“Umrah dalam Kabin Kapital: Ketika Jamaah Dijual, Pemerintah Sibuk Menghitung Pita Peresmian”

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta — Di negeri yang selalu pandai membungkus penderitaan dengan spanduk religius, perjalanan menuju Tanah Suci kini makin menyerupai jalur penderitaan yang dipoles brosur diskon.

Bandara dipenuhi koper dan doa, sementara langit penerbangan umrah berubah menjadi pasar saham yang memperdagangkan kecemasan umat per kilogram.

Harga tiket melonjak bukan lagi seperti grafik ekonomi, melainkan seperti kerasukan setan pasar yang lupa bahwa di balik angka ada orang tua yang menabung bertahun-tahun hanya demi sekali mengucap talbiyah di depan Ka’bah.

Di ruang-ruang travel umrah, aroma kopi pahit bercampur bau kepanikan. Para pemilik travel kini lebih sering menghitung kerugian dibanding menghitung jamaah. Sebab maskapai penerbangan perlahan berubah seolah menjadi makhluk rakus yang memakan industri umrah dari dalam, sambil tersenyum memakai jargon “penyesuaian harga”.

Mereka menyebutnya dinamika pasar.
Padahal jamaah tahu, itu cuma nama sopan untuk keserakahan. Selama bertahun-tahun, travel umrah adalah penyelamat kursi-kursi kosong maskapai. Saat musim sepi, jamaahlah yang memenuhi kabin. Saat rute megap-megap, jamaahlah yang menjaga napas industri penerbangan.

Tetapi begitu permintaan meningkat, maskapai mendadak lupa diri. Harga dinaikkan sepihak seperti raja kecil yang baru menemukan mesin cetak uang.

Firman Guswan, pemilik Nasuha Travel yang pernah mengajukan Judicial Review soal Umrah Mandiri ke Mahkamah Konstitusi, mengatakan, para travel kini mulai kehilangan kesabaran.

“Jangan jadikan jamaah umrah sebagai ladang kerakusan. Travel bukan sapi perah. Kalau harga terus dimainkan seenaknya, biar pesawat terbang membawa keserakahan saja tanpa penumpang!” katanya.

Dan publik sebenarnya sudah terlalu akrab dengan kekacauan penerbangan umrah di Indonesia—drama panjang yang diputar ulang setiap musim keberangkatan, hanya pemerannya saja yang berganti.
Ada jamaah yang tertahan berhari-hari di bandara karena jadwal berubah mendadak seperti janji politik menjelang pemilu. Ada lansia yang tertidur di lantai terminal sambil memeluk tas paspor, sebab maskapai mendadak delay tanpa kepastian. Ada koper hilang yang pencariannya lebih rumit daripada mencari pejabat yang mau bertanggung jawab.

Beberapa jamaah bahkan pernah mengeluh tentang janji “direct flight” yang ternyata hanya tulisan indah di brosur. Kenyataannya: transit berkali-kali, duduk berjam-jam, tubuh remuk, kaki bengkak, hingga ibadah terasa seperti uji ketahanan hidup.

Bandara berubah menjadi ruang tunggu penderitaan massal. Pengeras suara memanggil delay dengan nada datar seperti pegawai yang kehilangan empati. Sementara jamaah duduk dengan wajah lelah, memboreh minyak kayu putih, memijat lutut, dan mencoba sabar karena merasa marah di perjalanan ibadah pun bisa dianggap dosa.

Ironisnya, setiap musim umrah tiba, yang paling cepat naik bukan kualitas pelayanan, melainkan daftar alasan. Avtur naik. Dolar naik. Pajak naik. Biaya operasional naik.
Semuanya naik, kecuali rasa malu.

Dan di tengah kekacauan itu, pemerintah tampil seperti petugas dekorasi: sibuk berdiri di depan kamera, memotong pita, membuat kementerian baru, tetapi gagap ketika rakyat meminta perlindungan nyata.

Kehadiran Kementerian Haji yang digadang-gadang membawa pembaruan pun sampai hari ini terasa lebih mirip papan nama baru di pintu birokrasi lama. Jamaah tetap delay. Harga tiket tetap liar. Maskapai tetap semena-mena. Travel tetap megap-megap.

Kementerian hadir dalam konferensi pers, tetapi absen di kursi tunggu bandara tempat lansia tidur berselimut ihram.

Mereka fasih bicara “transformasi layanan”, tetapi belum mampu menjawab pertanyaan sederhana: mengapa tiket bisa naik seenaknya tanpa dialog? Mengapa jamaah selalu menjadi pihak paling lemah? Dan mengapa setiap kekacauan selalu selesai dengan kalimat, “masih kami koordinasikan”?

Koordinasi di negeri ini memang seperti doa tanpa amin—panjang, berputar-putar, tetapi jarang turun hasilnya.

Habib Barakwan, pemilik Bass Tour, Guswan Travel, dan MMS Travel, mengatakan para travel kini mulai membicarakan konsolidasi nasional hingga boikot massal terhadap maskapai yang menaikkan harga sepihak tanpa diskusi.

“Jangan hanya saat kursi kosong travel dicari-cari, tapi saat travel butuh harga wajar justru dicekik. Ini kemitraan atau penjagalan?” katanya getir.

Dari kabar yang beredar, sejumlah maskapai diduga mulai menaikkan harga secara sepihak. Nama seperti Lion Air dan Batik Air ramai diperbincangkan. Garuda Indonesia dan Saudi Airlines pun disebut-sebut kemungkinan mengikuti pola yang sama.

Jika itu terjadi, para travel mengancam akan melakukan pengalihan seat hingga penghentian kerja sama massal.

“Kalau kami jadi boikot, kursi maskapai akan kosong tanpa jamaah,” pungkas Firman.

Dan mungkin itulah ironi terbesar negeri ini: umat diminta ikhlas, jamaah diminta sabar, travel diminta bertahan, sementara sebagian maskapai dan birokrasi justru sibuk menghitung untung di atas sajadah yang perlahan berubah menjadi tabel bisnis.

Di negeri ini, bahkan perjalanan menuju rumah Tuhan pun bisa tersesat di terminal keserakahan.