Dari ruang belajar hingga potensi lokal, perempuan Pontianak diajak mengembangkan usaha tanpa melupakan keluarga dan lingkungan.
swarabhayangkara, Pontianak — Menjadi ibu sekaligus pengusaha bukan perkara membagi waktu semata. Ada anak yang butuh perhatian, keluarga yang harus diurus, dagangan yang mesti tetap laku, dan kesehatan yang tak boleh terus-menerus dinomorduakan.
Di antara semua peran itu, perempuan kerap menjadi sosok yang paling sibuk menjaga semuanya tetap berjalan. Bahkan, terkadang mereka lupa bahwa dirinya sendiri juga membutuhkan ruang untuk bertumbuh.
Di Pontianak, Kalimantan Barat, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) mencoba menghadirkan ruang tersebut melalui kegiatan Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) Akbar bertema “Budaya Lestari, Usaha Berseri”.
Bukan sekadar tempat berkumpul atau mendengarkan materi bisnis, kegiatan ini dirancang untuk membantu nasabah memperkuat keterampilan usaha sekaligus memberikan perhatian terhadap kebutuhan mereka sebagai ibu dan perempuan yang menjalankan roda ekonomi keluarga.
Sebab, membangun usaha bukan cuma soal menghitung modal, omzet, dan keuntungan. Ada kehidupan yang ikut bergerak di belakangnya. Ada keluarga yang berharap, anak-anak yang bertumbuh, dan mimpi sederhana yang ingin diwujudkan secara perlahan.
Ada Tempat Bermain Anak, Ada Ruang untuk Ibu Bernapas
Salah satu hal menarik dalam kegiatan tersebut adalah kehadiran area bermain anak atau mini daycare. Fasilitas ini memberi kesempatan kepada nasabah yang datang bersama buah hati untuk mengikuti kegiatan dengan lebih nyaman.
PNM juga menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan bagi para nasabah.
Dua fasilitas itu mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi seorang ibu yang terbiasa mengurus banyak hal sekaligus, perhatian kecil semacam ini bisa terasa berarti.
Bayangkan, seorang ibu sedang berusaha memahami strategi pemasaran agar dagangannya semakin laris. Di saat yang sama, pikirannya mungkin masih tertuju pada anak yang dibawanya ke lokasi acara.
Ketika tersedia tempat bermain untuk anak, ia bisa sedikit lebih tenang. Ketika ada layanan pemeriksaan kesehatan, ia memperoleh kesempatan untuk memperhatikan kondisi tubuhnya sendiri.
“Kalau ada kegiatan seperti ini, sebagai ibu saya biasanya harus memikirkan anak juga. Jadi, ketika ada tempat untuk anak bermain, saya bisa mengikuti kegiatan dengan lebih tenang. Saya juga bisa sekalian memeriksakan kesehatan. Buat saya, ini membantu karena kebutuhan saya sebagai ibu dan sebagai pengusaha sama-sama diperhatikan,” ujar salah satu nasabah PNM.
Dari situ terlihat bahwa pemberdayaan perempuan tidak selalu harus dimulai dengan seminar besar atau teori bisnis yang rumit. Terkadang, pemberdayaan justru dimulai ketika seorang ibu diberi ruang untuk belajar tanpa harus merasa bersalah karena meninggalkan sejenak rutinitas pengasuhan.
Karena perempuan yang ingin maju juga membutuhkan kesempatan untuk mengurus dirinya sendiri.
Belajar Bisnis, Bukan Sekadar Bertahan Hidup
Setelah urusan kenyamanan, ada hal lain yang tak kalah penting: kemampuan mengembangkan usaha.
PNM menghadirkan coaching clinic sebagai ruang bagi nasabah untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan bisnis. Melalui pendampingan ini, mereka berkesempatan belajar, bertukar pengalaman, dan memahami cara mengelola usaha agar dapat berkembang.
Bagi pelaku usaha mikro, tantangan sering kali bukan terletak pada kurangnya kemauan bekerja keras. Mereka sudah terbiasa bangun pagi, menyiapkan dagangan, melayani pembeli, hingga menghitung pemasukan di penghujung hari.
Persoalannya, kerja keras saja tidak selalu cukup.
Usaha membutuhkan pengetahuan, strategi pemasaran, pengelolaan keuangan, inovasi produk, dan kemampuan membaca perubahan pasar. Tanpa itu semua, seseorang bisa saja sibuk sepanjang hari, tetapi usahanya berjalan di tempat.
Karena itu, pendampingan usaha menjadi penting. Pelaku UMKM perlu mendapat kesempatan untuk meningkatkan kemampuan, bukan hanya terus didorong agar lebih giat bekerja.
Harapannya, usaha yang selama ini dijalankan demi memenuhi kebutuhan keluarga perlahan bisa berkembang menjadi sumber penghidupan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Ketika Budaya Lokal Menjadi Peluang Bisnis
Tema “Budaya Lestari, Usaha Berseri” membawa pesan bahwa peluang usaha tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Terkadang, potensi itu justru tumbuh di lingkungan sendiri.
Pontianak dan Kalimantan Barat memiliki kekayaan budaya, tradisi, serta produk lokal yang bisa dikembangkan menjadi peluang ekonomi.
Keunikan daerah dapat menjadi pembeda di tengah persaingan pasar. Produk yang memiliki cerita, identitas, dan ciri khas berpeluang menarik perhatian konsumen, terutama ketika dikemas secara kreatif dan dipasarkan melalui kanal yang tepat.
Dalam kegiatan ini, PNM menghadirkan pameran produk unggulan nasabah dan Pojok UMKM yang menampilkan produk khas Pontianak.
Ruang tersebut menjadi kesempatan bagi para pelaku usaha untuk memperkenalkan produknya kepada pengunjung sekaligus menunjukkan bahwa produk lokal memiliki potensi untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Di era ketika media sosial bisa mengubah produk rumahan menjadi perbincangan banyak orang, kreativitas dan identitas lokal merupakan modal yang patut diperhitungkan.
Produk sederhana bukan berarti tak punya masa depan. Bisa jadi, yang dibutuhkan hanyalah pengemasan yang lebih menarik, cerita yang kuat, serta strategi pemasaran yang sesuai dengan kebiasaan konsumen masa kini.
Dengan begitu, budaya tidak hanya menjadi sesuatu yang dikenang dalam perayaan atau dipajang sebagai simbol kebanggaan. Budaya juga dapat hidup melalui karya, menggerakkan ekonomi, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Sampah Ditukar Bibit, Kepedulian Dimulai dari Hal Kecil
Pemberdayaan usaha dalam kegiatan tersebut juga berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
PNM menghadirkan edukasi pengelolaan sampah dan kegiatan penukaran sampah dengan bibit tanaman. Langkah ini mengajak nasabah memahami bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Sampah yang selama ini dianggap tak berguna dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran tentang pengelolaan lingkungan.
Memang, menukar sampah dengan bibit tanaman tidak serta-merta menyelesaikan persoalan lingkungan. Namun, kegiatan semacam ini dapat menjadi awal untuk membangun kebiasaan yang lebih bertanggung jawab.
Sama seperti usaha yang tumbuh dari langkah kecil, kepedulian terhadap lingkungan pun membutuhkan konsistensi.
Sebab, bisnis yang baik bukan hanya tentang berapa banyak keuntungan yang berhasil dibawa pulang.
Ada pula pertanyaan tentang bagaimana usaha itu dijalankan dan apakah pertumbuhannya membawa manfaat bagi lingkungan sekitar.
Apresiasi untuk Perempuan yang Terus Berjuang
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Republik Indonesia, Maman Abdurrahman, mengapresiasi semangat para nasabah Mekaar yang terus menjalankan dan mengembangkan usahanya.
Menurut dia, banyak nasabah yang telah menjadi bagian dari program Mekaar selama bertahun-tahun. Ketekunan tersebut menunjukkan besarnya semangat perempuan dalam menjaga keberlangsungan usaha sekaligus menopang ekonomi keluarga.
“Ibu-ibu nasabah Mekaar menunjukkan semangat dan ketekunan dalam menjalankan usahanya. Banyak di antara mereka yang telah bertahun-tahun menjadi bagian dari Mekaar. Semangat ini perlu terus dijaga dan didukung agar usaha yang dijalankan semakin berkembang dan memberikan manfaat bagi keluarga,” ujar Maman.
Apresiasi tersebut menjadi pengingat bahwa di balik usaha mikro yang terlihat sederhana, ada perjuangan panjang yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Ada ibu yang tetap berjualan meski tubuhnya lelah.
Ada yang memutar keuntungan untuk membeli bahan baku sekaligus memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ada pula yang harus memikirkan pendidikan anak di tengah pendapatan usaha yang tidak selalu menentu.
Mereka bukan sekadar pelaku UMKM dalam angka statistik. Mereka adalah orang-orang yang setiap hari berusaha menjaga kehidupan keluarganya tetap berjalan.
Karena itu, dukungan terhadap usaha perempuan perlu hadir secara nyata, melalui akses pembiayaan, pendampingan, peningkatan keterampilan, dan kesempatan untuk memperluas pasar.
Potensi Lokal, Harapan yang Tumbuh dari Rumah
Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero), Kindaris, menilai kekayaan budaya dan potensi lokal Kalimantan Barat dapat menjadi peluang bagi nasabah untuk mengembangkan usaha sekaligus memberikan nilai tambah bagi keluarga.
“Kalimantan Barat memiliki kekayaan budaya dan potensi lokal yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha. Kami berharap para nasabah dapat terus berinovasi, mengangkat keunikan daerahnya, dan menjadikan potensi tersebut sebagai sumber nilai tambah bagi keluarga,” ujar Kindaris.
Melalui pembiayaan, pendampingan, dan pemberdayaan, PNM berupaya membuka kesempatan bagi perempuan untuk mengembangkan potensi diri dan usahanya.
Namun, pada akhirnya, pertumbuhan sebuah usaha tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah produk atau meningkatnya angka penjualan.
Ada hal lain yang juga penting: kemampuan pelakunya untuk berkembang, keberanian mencoba hal baru, dan kesempatan menjalani kehidupan yang lebih baik.
Perempuan yang berdaya bukan berarti perempuan yang harus mengerjakan semuanya sendirian. Mereka juga berhak memperoleh dukungan, kesempatan belajar, dan ruang untuk merawat dirinya sendiri.
Dari Pontianak, pesan itu menemukan bentuknya melalui ruang belajar, layanan kesehatan, area bermain anak, hingga pameran produk lokal.
Sebuah langkah yang mengingatkan kita bahwa ketika perempuan diberi kesempatan untuk tumbuh, yang berkembang bukan hanya usahanya.
Ada keluarga yang ikut merasakan manfaatnya, ada potensi lokal yang menemukan jalannya, dan ada lingkungan yang perlahan mendapat perhatian.
Sebab, usaha yang berseri tak selalu dimulai dari modal besar. Terkadang, ia tumbuh dari keberanian seorang perempuan untuk bermimpi, dukungan yang datang pada waktu yang tepat, dan kesempatan untuk membuktikan bahwa hal-hal kecil di sekitar kita pun bisa menjadi awal dari sesuatu yang besar.







