BOGOR , 11/09 – 2026 — Teknologi 3D printer mulai dimanfaatkan sebagai salah satu sarana inovasi pembelajaran di SMP Negeri 2 Jonggol. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), tim dosen Universitas Kristen Indonesia (UKI) memberikan pendampingan kepada para guru untuk memanfaatkan teknologi tersebut dalam mengembangkan alat peraga pembelajaran.
Kegiatan bertajuk “Pendampingan Pemanfaatan 3D Printer untuk Pengembangan Alat Peraga Pembelajaran di SMP Negeri 2 Jonggol” dilaksanakan pada 10 Agustus 2026 di ruang multimedia SMP Negeri 2 Jonggol dan diikuti oleh 36 guru.
Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan keterampilan dan literasi digital guru, khususnya dalam merancang, membuat, dan memanfaatkan alat peraga berbasis teknologi 3D printer.
Sekolah Sambut Baik Pemanfaatan Teknologi 3D Printer
Kepala SMP Negeri 2 Jonggol, Dra. Hj. Mas’amah, MM., menyambut baik pelaksanaan kegiatan pendampingan yang dilaksanakan oleh tim PKM UKI. Menurutnya, pemanfaatan teknologi 3D printer memberikan pengalaman baru bagi guru dalam mengembangkan alat peraga yang dapat mendukung pembelajaran di kelas.
“Kami menyambut baik kegiatan pendampingan pemanfaatan 3D printer ini karena memberikan pengalaman baru bagi guru dalam mengembangkan alat peraga pembelajaran. Kami berharap keterampilan yang diperoleh dapat terus dikembangkan dan diterapkan dalam pembelajaran sehingga teknologi yang ada di sekolah benar-benar memberikan manfaat bagi guru dan peserta didik,” ujar Dra. Hj. Mas’amah, MM.
Mengubah Konsep Abstrak Menjadi Lebih Konkret
Dalam kegiatan tersebut, guru mendapatkan pemaparan materi “Transformasi Alat Peraga Pembelajaran melalui Teknologi 3D Printer” yang disampaikan oleh Riska Septia Wahyuningtyas, M.Pd. Materi menyoroti tantangan pendidik dalam menyampaikan konsep-konsep abstrak agar dapat dipahami peserta didik secara lebih nyata.
Melalui 3D printer, guru dapat mengembangkan alat peraga sesuai dengan kebutuhan materi dan karakteristik peserta didik. Objek tiga dimensi yang dihasilkan dapat menjadi representasi konkret dari suatu konsep, bahkan dapat dirancang agar dapat dirakit, digerakkan, maupun dimodifikasi sesuai kebutuhan pembelajaran.
Materi berikutnya disampaikan oleh Septina Severina Lumbantobing, M.Pd., yang membahas pemanfaatan 3D printer untuk menjembatani kesenjangan antara perkembangan teknologi dan praktik pembelajaran di kelas. Keberadaan perangkat teknologi saja belum cukup, guru perlu memiliki kemampuan untuk memanfaatkannya secara pedagogis. Karena itu, proses mulai dari merancang model digital, mengolah file, mengoperasikan mesin hingga menggunakan produk hasil cetak dalam pembelajaran menjadi bagian penting dalam meningkatkan literasi digital dan kemandirian guru.
Guru Tidak Hanya Belajar Teori, tetapi Praktik Langsung
Setelah pemaparan materi, peserta mengikuti demonstrasi penggunaan 3D printer yang dipandu oleh Andreas Rian Nugroho, M.Pd., dengan dukungan mahasiswa dan tenaga teknis di lapangan. Para peserta dibagi menjadi dua kelompok untuk mengamati secara langsung tahapan pengoperasian perangkat.
Guru diperkenalkan pada tahapan produksi alat peraga, mulai dari menentukan objek yang akan dibuat, menyiapkan desain 3D, menggunakan perangkat lunak Bambu Studio, mengatur posisi dan orientasi objek, menentukan parameter pencetakan, melakukan slicing, menyiapkan filamen, hingga mengirimkan desain ke mesin untuk dicetak.
Tidak berhenti pada demonstrasi, para guru kemudian melakukan praktik langsung menggunakan mesin 3D printer. Pada percobaan awal, peserta mencetak file contoh yang telah tersedia. Setelah memahami proses dasar, peserta diarahkan untuk menggunakan desain yang dipilih atau dibuat sendiri. Pendekatan learning by doing tersebut memberikan pengalaman nyata kepada guru dalam memahami seluruh proses pembuatan alat peraga, mulai dari desain digital hingga menghasilkan produk fisik.
Perkuat Literasi Digital dan Kreativitas Guru
Kegiatan mendapatkan tanggapan positif dari para peserta. Guru menilai teknologi 3D printer memberikan pengalaman baru dalam mengembangkan media pembelajaran. Berbagai objek yang sebelumnya hanya dapat dibayangkan atau ditampilkan melalui gambar kini dapat diwujudkan menjadi objek tiga dimensi yang nyata, dapat diamati, dan digunakan secara langsung dalam pembelajaran.
Selain menghasilkan alat peraga, proses penggunaan 3D printer juga memberikan pengalaman dalam meningkatkan keterampilan dan literasi digital guru. Guru belajar merancang desain, mengolah model digital, mengoperasikan printer, hingga menghasilkan produk fisik yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran.
Pemanfaatan teknologi ini diharapkan tidak hanya menghasilkan alat peraga, tetapi juga mendorong perubahan cara guru dalam mengembangkan media pembelajaran. Guru tidak harus selalu bergantung pada alat peraga yang tersedia di pasaran, tetapi dapat merancang dan memproduksi objek sesuai kebutuhan materi dan karakteristik peserta didik.
Menuju Pembelajaran Berbasis Teknologi yang Berkelanjutan
Kegiatan PKM ini menjadi langkah awal untuk mendorong pemanfaatan 3D printer secara berkelanjutan di SMP Negeri 2 Jonggol. Para guru berharap pendampingan dapat terus dilanjutkan sehingga mereka dapat mengembangkan lebih banyak alat peraga untuk berbagai mata pelajaran, meningkatkan kemampuan desain 3D, serta mengoptimalkan penggunaan produk hasil cetak dalam kegiatan belajar mengajar.
Tim PKM selanjutnya akan mendorong pendampingan lanjutan dan optimalisasi pemanfaatan 3D printer oleh guru. Pengembangan alat peraga akan diarahkan berdasarkan kebutuhan mata pelajaran, disertai evaluasi terhadap pemanfaatan produk dalam pembelajaran.
Dengan demikian, teknologi 3D printer diharapkan dapat digunakan secara mandiri dan berkelanjutan oleh pihak sekolah. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa transformasi digital dalam pendidikan tidak semata-mata berkaitan dengan penggunaan perangkat teknologi, tetapi juga dengan kemampuan guru mengubah teknologi menjadi inovasi pembelajaran yang memberikan manfaat nyata bagi peserta didik. (Roce)







