ENTERTAIN

Dua Nafas, Sebuah Penantian yang Tak Sempat Mendengar Kata Terima Kasih

16
×

Dua Nafas, Sebuah Penantian yang Tak Sempat Mendengar Kata Terima Kasih

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta – Di tengah gemuruh konser K-Pop, hiruk-pikuk fandom yang tak pernah tidur, dan maraton drama Korea yang seakan menjadi teman setia malam banyak keluarga Indonesia, sebuah kisah sederhana datang mengetuk pintu hati penonton.

Namanya Dua Nafas. Film hasil kolaborasi sineas Indonesia dan Korea Selatan ini tidak menawarkan ledakan zombie seperti Train to Busan, tidak menghadirkan misteri kelam seperti Exhuma, dan tidak pula membawa satir sosial tajam sebagaimana Parasite.

Namun justru dalam kesederhanaannya, Dua Nafas mencoba mengingatkan penonton pada sesuatu yang sering terlupakan: rumah, keluarga, dan cinta seorang nenek yang tak pernah meminta balasan.

Gelombang Hallyu yang selama dua dekade terakhir menyeberangi lautan hingga Indonesia telah membuktikan bahwa cerita yang baik tidak mengenal batas negara. Musik dari BTS, BLACKPINK, NCT hingga EXO menemukan jutaan pendengar di Tanah Air. Film-film Korea memenuhi bioskop dan layanan streaming. Drama Korea bahkan telah menjelma menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia.

Di tengah kenyataan itulah, produser Park Joung-Kuk melihat peluang sekaligus keyakinan.”Tidak bisa dipungkiri industri hiburan Korea diterima dengan sangat baik oleh masyarakat Indonesia. Karena itu kami percaya kolaborasi ini dapat menghadirkan sesuatu yang berbeda bagi penonton Indonesia,” ujarnya.

Namun bagi Park dan timnya, Dua Nafas bukan sekadar proyek bisnis yang menunggangi popularitas Korea. Film ini lahir dari keyakinan bahwa masyarakat Indonesia dan Korea memiliki satu kesamaan yang tak lekang oleh zaman: penghormatan kepada keluarga.

Keyakinan itu diamini oleh Eksekutif Produser Kwon Dae-Hyung.
Menurutnya, meskipun dipisahkan ribuan kilometer, masyarakat Korea dan Indonesia memiliki kedekatan nilai yang unik. Di kedua negara, sosok nenek bukan sekadar anggota keluarga. Ia adalah penjaga kenangan, penyimpan nasihat, sekaligus pelabuhan terakhir ketika hidup terasa terlalu bising.

Karena itulah kisah Dua Nafas dipilih untuk diadaptasi. Film ini bercerita tentang Anto, seorang anak yang harus meninggalkan kenyamanan Jakarta dan tinggal bersama neneknya, Mariyam, di sebuah desa terpencil.

Pada mulanya, dunia Anto seolah runtuh.
Ia harus berpisah dari kehidupan kota yang dikenalnya. Jalan-jalan ramai berganti jalan tanah. Gedung-gedung tinggi berganti hamparan sawah. Internet cepat berganti sunyi yang panjang.

Keputusan itu diambil oleh sang ibu, Wati, yang dengan berat hati menitipkan putranya kepada Mariyam demi masa depan yang lebih baik.

Hari-hari pertama menjadi masa yang sulit bagi Anto. Kesepian menjadi teman baru. Ia merasa asing dengan kehidupan desa dan sulit menerima perubahan yang begitu drastis.

Namun waktu memiliki cara sendiri untuk mengajarkan arti kehidupan.
Perlahan Anto menemukan sahabat dalam diri Putri dan Udin. Tawa mereka mengisi ruang-ruang kosong yang sebelumnya dipenuhi keluhan. Dan tanpa ia sadari, kasih sayang neneknya mulai tumbuh menjadi akar yang menancap kuat di dalam hatinya.

Mariyam mungkin tidak memiliki banyak harta. Namun seperti banyak nenek di pelosok Indonesia, ia memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga: cinta yang tak mengenal syarat.

Tahun-tahun berlalu. Anto tumbuh menjadi dokter muda yang berhasil mewujudkan cita-citanya. Dengan bangga ia kembali ke desa, membawa ijazah yang ingin dipersembahkan kepada perempuan yang telah mengorbankan sebagian besar hidupnya untuk dirinya.

Ia ingin mengatakan terima kasih.
Ia ingin menunjukkan bahwa semua perjuangan Mariyam tidak sia-sia.
Namun kehidupan sering kali menulis adegannya sendiri.

Saat tiba di rumah, Anto mendapati meja makan telah dipenuhi makanan kesukaannya. Sang nenek rupanya telah menunggu kepulangannya dengan penuh kebahagiaan.

Tetapi penantian itu telah berakhir lebih dulu. Mariyam ditemukan telah meninggal dunia dalam posisi duduk, seolah masih menatap pintu yang akan dilalui cucunya.
Ia pergi tepat sebelum mendengar ucapan terima kasih yang paling ingin didengarnya.

Di situlah Dua Nafas menemukan kekuatannya. Bukan pada kemegahan produksi atau efek visual, melainkan pada kenyataan yang terasa begitu dekat dengan kehidupan banyak orang: bahwa terkadang cinta terbesar datang dari mereka yang paling sederhana, dan bahwa penyesalan sering lahir dari kata-kata yang terlambat diucapkan.

Film berdurasi 93 menit ini disutradarai Hasto Broto, dengan Park Joung-Kuk dan Syakir Daulay sebagai produser. Skenario ditulis oleh Jo Hyeon Suk dan Exan Zen yang meramu kisah keluarga ini menjadi drama yang hangat sekaligus menguras emosi.

Didukung jajaran kru seperti Afriyas SK sebagai Art Director, Zavier Mulia Harimurti sebagai Sound Recordist, Elang Tinangon sebagai Editor, Anwar Faudzi untuk Scoring Music, serta Asep sebagai Director of Photography, film ini menghadirkan nuansa visual dan emosional yang dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia.

Deretan pemain seperti Aty Cancer, Adelia Rasya, Auzan Noh Karepesina, Mantra Gurindam Smaratungga, dan Bilqis Hafsa turut menghidupkan cerita yang sederhana namun sarat makna ini.

Park Joung-Kuk berharap Dua Nafas dapat menjadi bagian dari perjalanan baru perfilman Indonesia. Sebab pada akhirnya, film yang baik bukan hanya membuat penonton menangis atau tertawa. Film yang baik membuat penonton pulang membawa kenangan.

Dan Dua Nafas tampaknya ingin mengajak penonton Indonesia pulang kepada kenangan paling sederhana: seorang nenek yang menunggu cucunya di depan pintu rumah.