Ekonomi

Ironi Pangan di Indonesia: 13 Juta Ton Makanan Terbuang, 26 Juta Orang Kelaparan

471
×

Ironi Pangan di Indonesia: 13 Juta Ton Makanan Terbuang, 26 Juta Orang Kelaparan

Sebarkan artikel ini

Jakarta, swarabhayangkara – Indonesia menghadapi paradoks besar dalam sistem pangannya. Menurut laporan PBB (UNDP), sebanyak 13 juta ton makanan terbuang setiap tahun, setara dengan 25% dari total produksi pangan nasional. Sementara itu, 26 juta orang masih berjuang melawan kelaparan.

Penyebab utama pemborosan makanan ini mencakup kebiasaan membeli makanan berlebihan, penyimpanan yang tidak tepat, limbah makanan dari restoran, serta penyediaan makanan berlebih di berbagai acara.

Menanggapi krisis ini, Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia dan Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) berkomitmen untuk mengurangi limbah pangan dengan meluncurkan gerakan “Berbagi Makanan Berlebih” yang akan dimulai pada bulan Ramadhan mendatang.

Gerakan Berbagi Makanan Berlebih: Dari Restoran ke Kaum Dhuafa

Dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani di Desa Wisata KISUCI, Bogor, pada 16 Februari 2025, kedua organisasi sepakat untuk mengumpulkan makanan tak terjual dari restoran dan mendistribusikannya kepada masyarakat yang membutuhkan.

National Facilitator IRI Indonesia, Dr. Hayu Prabowo, menekankan bahwa ini adalah langkah awal untuk mengurangi pemborosan makanan sekaligus membantu mereka yang kelaparan.

“Tahap pertama yang akan kita lakukan adalah berbagi makanan ‘sisa’ di bulan Ramadhan ini. Makanan yang tidak habis terjual oleh restoran-restoran akan dikumpulkan dan dibagikan kepada masyarakat miskin,” ujar Hayu.

Ia juga menambahkan bahwa program serupa pernah diterapkan saat ia menjadi Takmir Masjid Aburizal Bakri di Jakarta Selatan, di mana makanan dari acara-acara masjid dibagikan kepada para gelandangan dan dhuafa.

Ketua Umum PJMI, H. Ismail Lutan, menyoroti ketimpangan distribusi pangan di Indonesia.

“Ini ironi sekali. Di satu sisi, makanan melimpah dan dibuang-buang, sementara di sisi lain jutaan orang kelaparan. Jika distribusi makanan lebih merata, tidak akan ada rakyat Indonesia yang kelaparan,” tegasnya.

Lintas Agama Bersatu untuk Konservasi dan Kesadaran Publik

Tak hanya tentang pangan, kerja sama ini juga meliputi advokasi konservasi hutan tropis, termasuk:

  1. Pelatihan dan edukasi jurnalis mengenai perubahan iklim dan peran masyarakat adat.
  2. Produksi konten media yang mendukung kesadaran lingkungan.
  3. Advokasi kebijakan publik untuk perlindungan hutan dan mitigasi perubahan iklim.

Langkah konkret ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk turut serta dalam mengatasi ketimpangan pangan serta menjaga kelestarian lingkungan demi masa depan yang lebih baik.

NMC