HUKRIM

Konflik Kebisingan Berujung Laporan Polisi, Ayah di Cengkareng Laporkan Dugaan Penganiayaan Anak

286
×

Konflik Kebisingan Berujung Laporan Polisi, Ayah di Cengkareng Laporkan Dugaan Penganiayaan Anak

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta — Perselisihan antarwarga terkait kebisingan suara drum di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, berujung pada saling lapor ke pihak kepolisian. Seorang pria berinisial DBS (50-an) melaporkan tetangganya atas dugaan penganiayaan terhadap anaknya, menyusul insiden fisik yang terjadi di depan rumah mereka.

Menurut keterangan DBS, polemik bermula dari keberatan tetangga bernama Darwin terhadap aktivitas latihan drum anaknya. DBS menyampaikan bahwa rumah yang ditempatinya merupakan rumah orang tuanya dan telah dihuni keluarga sejak 1976. Pada Januari 2025, ia membangun ruang tambahan yang difungsikan sebagai studio latihan drum.

Ia mengklaim telah melakukan sejumlah modifikasi guna meredam suara, antara lain mengganti sebagian tembok dengan conblock, menambah lapisan gypsum dan bahan peredam lain, serta menutup ventilasi yang mengarah ke rumah tetangga.

“Kami sudah upayakan peredaman semaksimal mungkin. Bahkan pintu diganti yang lebih berat supaya suara tidak keluar,” ujar DBS. DBS menambahkan, anaknya hanya diizinkan bermain drum pada siang hingga sore hari dan tidak melewati pukul 17.00 WIB.

Perselisihan Sejak November 2025
DBS menyebut komplain pertama terjadi pada November 2025 sekitar pukul 16.00 WIB, ketika Darwin dan istrinya, Angel, mendatangi rumahnya untuk menyampaikan keberatan. Ia mengklaim dalam peristiwa tersebut terjadi adu mulut dan anaknya menerima ucapan bernada kasar.

Sejak saat itu, aktivitas latihan drum dihentikan sementara. DBS mengaku telah mengusulkan uji dengar bersama untuk mengukur tingkat kebisingan secara objektif.

“Saya minta ada tes suara supaya jelas. Jangan mendadak, beri waktu minimal dua hari sebelumnya,” katanya. Namun, menurut dia, rencana tersebut tidak pernah terlaksana.

Insiden di Depan Rumah
Peristiwa yang dilaporkan ke polisi terjadi saat anak DBS kembali bermain drum setelah sebelumnya meminta izin kepada penjaga rumah, Solihin alias Acong. Tidak lama berselang, anaknya dipanggil karena adanya komplain.

DBS mengaku menerima informasi melalui telepon bahwa anaknya didatangi Darwin di depan rumah. Saat tiba di lokasi, ia mengklaim melihat telah terjadi kontak fisik.

“Saya lihat anak saya didorong dan bajunya ditarik. Sebagai orang tua, saya refleks melindungi,” ujarnya.

DBS mengakui terjadi perkelahian singkat. Ia menyebut Darwin mengalami luka saat bergumul dan diduga terkena material bangunan di sekitar lokasi. Ia juga membantah isu yang menyebut adanya tindakan penabrakan terhadap istri Darwin, dengan menyatakan tidak ada cedera yang dialami.

Saling Lapor dan Mediasi
Ketua RW setempat disebut telah menawarkan mediasi pada hari yang sama, namun belum tercapai kesepakatan. DBS kemudian mengetahui bahwa pihak Darwin lebih dahulu membuat laporan ke polisi.
Merasa anaknya menjadi korban dan peristiwa sebelumnya belum tercatat secara hukum, DBS membuat laporan balik terkait dugaan penganiayaan serta dugaan makian dan provokasi.

Ia menyatakan terbuka untuk penyelesaian damai melalui mediasi resmi. “Kalau bisa diselesaikan secara baik-baik, tentu itu yang kami harapkan. Kami tetap ingin hubungan bertetangga tetap kondusif,” ujarnya.

DBS menyebut sejumlah saksi berada di lokasi saat kejadian, antara lain Solihin (Acong), Nasip, Hariman, Jum, dan warga sekitar.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Darwin mengenai kronologi versi mereka. Pihak kepolisian masih melakukan pendalaman terhadap laporan dari kedua belah pihak untuk memastikan fakta serta dugaan pelanggaran hukum yang terjadi.