DAERAH

Pemkab Bengkayang bina 10 desa perkuat mitigasi iklim lewat Proklim

9
×

Pemkab Bengkayang bina 10 desa perkuat mitigasi iklim lewat Proklim

Sebarkan artikel ini

 

Bengkayang, 07/8  – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkayang, Kalimantan Barat, memperkuat upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan mendorong dan membina 10 desa melalui Program Kampung Iklim (ProKlim), sebagai langkah memperluas gerakan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Disperkim LH) Kabupaten Bengkayang Damianus mengatakan pembinaan tersebut menjadi strategi pemerintah daerah untuk memperbanyak desa yang mampu menerapkan aksi nyata pengendalian perubahan iklim berbasis masyarakat.

“Program Kampung Iklim bukan sekadar memenuhi target, tetapi bagaimana membangun kesadaran masyarakat agar mampu melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim sesuai potensi yang dimiliki desa masing-masing,” kata Damianus di Bengkayang, Jumat.

Ia menjelaskan pembinaan diawali di Desa Goa Boma, Kecamatan Monterado, yang telah menjadi lokasi ProKlim. Desa tersebut akan berperan sebagai desa pendamping bagi 10 desa calon binaan melalui kolaborasi antara Disperkim LH Bengkayang dan Yayasan Swadaya Dian Khatulistiwa.

Sepuluh desa yang menjadi sasaran pembinaan meliputi Desa Monterado, Siaga, Jahandung, Serindu, Beringin Baru, Mekar Baru, Sendoreng, Rantau, Nek Ginap, dan Tamong.

“Melalui pendampingan tersebut, pemerintah menargetkan terbentuk sembilan lokasi ProKlim baru di Kecamatan Monterado dan satu lokasi ProKlim baru di Kecamatan Siding pada 2027,” ujarnya.

Menurut Damianus, pendekatan pembinaan antardesa dinilai lebih efektif karena desa yang telah berhasil menjalankan ProKlim dapat berbagi pengalaman dan praktik terbaik kepada desa lain, sehingga implementasi program lebih mudah diterapkan oleh masyarakat.

Ia mengatakan ProKlim merupakan program nasional yang mendorong keterlibatan masyarakat dalam berbagai aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, seperti pengelolaan sampah berbasis masyarakat, penghijauan, konservasi sumber air, pertanian ramah lingkungan, pengendalian kebakaran hutan dan lahan, hingga pemanfaatan energi yang lebih efisien.

Selain memperluas jumlah lokasi ProKlim, pemerintah daerah juga menargetkan Desa Goa Boma dapat memenuhi persyaratan sebagai Desa ProKlim Lestari pada 2027.

“Predikat tersebut diberikan kepada desa yang dinilai berhasil menjaga keberlanjutan program, sekaligus mampu membina desa-desa lain dalam pelaksanaan aksi iklim,” ujarnya.

Damianus berharap semakin banyak desa yang terlibat dalam ProKlim, sehingga upaya pengendalian perubahan iklim tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi gerakan bersama masyarakat yang mampu meningkatkan ketahanan lingkungan, sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Bengkayang.

(wati)