HUKRIM

Ketika Luka Memilih Bersuara: Catatan Sunyi Alyne Maarif di Antara Ibu, Musik, dan Pertarungan Batin

302
×

Ketika Luka Memilih Bersuara: Catatan Sunyi Alyne Maarif di Antara Ibu, Musik, dan Pertarungan Batin

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta – Ada kisah yang tidak pernah benar-benar ingin diceritakan kepada dunia. Kisah yang lama disimpan seperti luka yang dijaga agar tidak semakin perih ketika disentuh cahaya.
Namun pada suatu titik, diam tidak lagi cukup.

Begitulah perjalanan yang kini perlahan diungkap oleh Alyne Maarif—seorang penyanyi, sekaligus ibu dari Niloufer Bahlwan, yang dikenal publik lewat perannya sebagai Agil dalam film Keluarga Cemara 2 dan sebagai Lolly dalam sinetron Di Antara Dua Cinta.

Selama ini publik hanya melihat sisi panggung: musik, karya, dan kehidupan seorang ibu yang tampak berjalan tenang. Namun di balik layar itu, ada perjalanan panjang pasca perceraian yang tidak pernah benar-benar selesai—sebuah bab hidup yang terus menulis dirinya sendiri dengan tinta konflik yang kadang terasa tak kunjung kering.

Perceraian itu sendiri bukan keputusan yang lahir dalam satu malam. Ia adalah perjalanan panjang yang diwarnai berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga—mulai dari kekerasan finansial, tekanan psikologis, hingga kekerasan fisik yang pernah hadir dalam relasi yang semestinya bernama rumah.

Sebelum akhirnya berpisah, Alyne telah dua kali mengajukan gugatan cerai. Namun setiap langkah menuju pintu keluar seperti dihadang oleh sesuatu yang tak kasatmata: manipulasi, tarik-ulur emosi, dan relasi yang membuat seseorang ragu pada dirinya sendiri.

Ironisnya, pada fase terakhir perceraian justru terjadi melalui gugatan dari pihak mantan suami. Miris..!

Saat itu Alyne tidak berada dalam posisi dengan kekuatan hukum yang cukup. Yang ada hanya satu keinginan sederhana: mengakhiri hubungan yang menurutnya sudah tidak lagi sehat dan membahayakan.

Ia percaya bahwa perceraian akan menjadi titik akhir konflik. Bahwa setelahnya, setiap orang dapat kembali menjalani hidupnya sendiri.

Namun kenyataan sering kali memiliki selera humor yang agak sinis. Konflik ternyata tidak berhenti setelah kata “cerai” ditulis di atas kertas hukum.

Laku Alyne berusaha menjalani hidup secara normal. Ia tidak menutup pintu komunikasi demi kepentingan anak-anaknya. Bahkan ia tidak pernah melarang mantan suaminya untuk datang atau bertemu dengan mereka.

Namun dalam praktiknya, pola kekerasan psikologis dan manipulasi masih terus muncul—kadang dalam bentuk tuduhan, kadang dalam bentuk penyalahkan, dan kadang dalam bentuk yang lebih halus namun melelahkan: gaslighting.
Sebuah bentuk relasi yang membuat seseorang perlahan dipaksa meragukan kewarasannya sendiri.

Akhirnya Alyne mengambil langkah yang tidak mudah: melakukan cut off demi menjaga kesehatan mentalnya.
Setelah batas itu dibuat, satu-satunya jalan masuk ke dalam kehidupannya tersisa melalui anak-anak. Dan di sanalah kekhawatiran seorang ibu mulai tumbuh.
Sebab di tengah konflik orang dewasa, anak-anak sering kali menjadi medan yang tidak mereka pilih.

Perjalanan panjang ini juga meninggalkan luka psikologis pada Alyne. Ia pernah mengalami depresi dengan tingkat kecemasan yang sangat tinggi. Pada titik tertentu ia memilih mencari bantuan profesional dan menjalani pemeriksaan psikologis.

Namun langkah yang seharusnya menjadi jalan penyembuhan justru dipelintir menjadi senjata untuk menyerangnya—melalui stigma, intimidasi, dan pelabelan yang tidak berdasar.

Ironi yang sering terjadi di masyarakat kita: ketika seseorang mencari pertolongan untuk sembuh, justru dianggap bukti bahwa ia “bermasalah”.

Di tengah berbagai tuduhan yang berkembang, Alyne akhirnya mendatangi Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) untuk meminta perlindungan bagi anak-anaknya.

Melalui proses asesmen terhadap Alyne dan anak-anaknya, LPAI mengeluarkan surat rekomendasi yang menyatakan bahwa anak-anak sebaiknya berada bersama ibunya serta memberikan batasan agar pihak mantan suami tidak datang tanpa pengaturan yang jelas.

Namun hingga kini, rekomendasi tersebut belum sepenuhnya diindahkan.
Situasi inilah yang akhirnya membuat Alyne memutuskan untuk buka suara. Bukan untuk menciptakan konflik baru, apalagi mencari perhatian publik.

Ia hanya menyadari satu hal sederhana: sesuatu yang dibiarkan terlalu lama tanpa batas, sering kali justru menganggap dirinya tidak bersalah.

Selama ini Alyne dikenal memilih jalur yang tenang. Ia menghindari pertikaian terbuka di ruang publik. Sebagai seorang seniman, ia memilih menyalurkan luka dan pergulatan batinnya melalui karya.
Perasaan yang tidak selalu mampu diucapkan dengan kata-kata dituangkan melalui lagu, tulisan, buku, dan jurnal pribadi. Di sanalah ia berbicara—tanpa harus berteriak.

Salah satu refleksi batin itu juga hadir dalam album yang ia kerjakan, termasuk album Narc, yang memuat perjalanan emosional selama ia melewati masa-masa sulit tersebut.

Namun sebagai seorang ibu, Alyne menyadari bahwa ada titik ketika karya saja tidak lagi cukup.Apalagi ia mulai melihat perubahan dalam dinamika emosional anak-anaknya. Ada fase pendekatan yang terasa sangat intens, yang menurutnya berpotensi diikuti pola manipulasi yang sama seperti yang pernah ia alami.
Bagi seorang ibu, itu adalah alarm yang tidak bisa diabaikan.

Selama lebih dari satu tahun terakhir, Alyne mengaku telah mengumpulkan berbagai data serta melakukan pengamatan psikologis terhadap perubahan yang terjadi pada anak-anaknya.

Meski ia percaya telah menanamkan fondasi pengasuhan yang kuat, kegelisahan seorang ibu tetap tidak dapat dihapus begitu saja. Langkah untuk berbicara terbuka ini pun bukan langkah pertama. Sebelumnya ia telah meminta pendampingan melalui berbagai jalur perlindungan, termasuk LPAI dan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak.

Bagi Alyne, ini adalah upaya terakhir.
Upaya untuk memastikan keselamatan emosional anak-anaknya tetap terjaga.
Ia juga menegaskan bahwa jika situasi ini terus berlanjut tanpa penyelesaian yang jelas, maka langkah hukum lanjutan bukan lagi sekadar kemungkinan. Ia siap menempuh proses hukum secara penuh—baik dalam ranah perdata maupun pidana bila diperlukan.

“Sebagai seorang ibu, saya tidak bisa hanya berdiri diam ketika melihat anak-anak saya berpotensi terseret ke dalam pola yang sama yang pernah saya alami. Ini bukan tentang konflik pribadi, tetapi tentang memastikan anak-anak tidak menjadi korban dari dinamika yang tidak sehat.”

Pada akhirnya, kisah ini bukan sekadar tentang perceraian. Bukan pula tentang siapa yang benar atau siapa yang salah.
Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berdiri di antara luka masa lalu dan masa depan anak-anaknya—berusaha memastikan bahwa sejarah yang pahit tidak perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.