ENTERTAIN

FFW 2026 : Ketika Film Tak Lagi Diadili oleh Ramainya Antrean, Melainkan Mutu Sebuah Karya

13
×

FFW 2026 : Ketika Film Tak Lagi Diadili oleh Ramainya Antrean, Melainkan Mutu Sebuah Karya

Sebarkan artikel ini

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. Dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)

swarabhayangkara.com, Jakarta — Di zaman ketika jumlah penonton sering dipuja bak kitab suci baru industri hiburan, sementara angka “trending” lebih cepat dipercaya daripada kedalaman cerita, Festival Film Wartawan (FFW) 2026 memilih jalan yang berbeda.

Festival ini kembali mengingatkan bahwa film tidak semestinya diukur hanya dari panjang antrean bioskop atau riuh tepuk tangan media sosial, tetapi juga dari gagasan, keberanian, dan jejak kebudayaan yang ditinggalkannya.

Langkah itu ditandai dengan rapat perdana pembentukan Komite Juri FFW 2026 di Aula Lantai 13 Gedung E Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Rabu (9/7).
Sebanyak 21 wartawan film dari berbagai media menerima amanah untuk mengamati, mengkritisi, menguji, lalu menentukan karya-karya terbaik yang beredar sepanjang Oktober 2025 hingga September 2026. Sebuah pekerjaan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya jauh lebih berat daripada sekadar mengangkat piala di atas panggung.

Menjadi juri berarti berdamai dengan nurani. Sebab di ruang penilaian tidak ada algoritma yang mampu mengukur kejujuran, tidak ada mesin yang dapat menimbang integritas, dan tidak ada popularitas yang otomatis menjelma kualitas.

Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan, Irini Dewi Wanti, mengingatkan bahwa media merupakan bagian penting dalam ekosistem perfilman nasional.”Film tanpa kehadiran teman-teman media tidak akan bergema dalam industrinya. Media adalah corong utama film Indonesia,” ujarnya.

Pernyataan itu sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman, yang menegaskan bahwa perfilman bukan sekadar industri hiburan, melainkan wahana pengembangan budaya bangsa, pendidikan, pembentukan karakter, pemersatu masyarakat, serta sarana mencerdaskan kehidupan bangsa.
Artinya, film bukan hanya soal siapa yang paling laris, tetapi siapa yang paling mampu berbicara kepada nurani masyarakat.

Sayangnya, zaman kadang memiliki ukuran yang berbeda. Karya yang viral sering dianggap otomatis bermutu. Angka penonton diperlakukan seolah-olah menjadi hakim terakhir. Padahal sejarah berkali-kali membuktikan, tidak semua yang ramai akan dikenang, dan tidak semua yang sunyi kehilangan nilai.

Di sinilah festival memiliki makna. Ia hadir sebagai ruang untuk berkata bahwa karya seni berhak dinilai secara adil, bukan sekadar mengikuti arus pasar.

Lebih dari itu, Irini juga menegaskan bahwa kritik media bukanlah ancaman bagi sineas. Kritik justru merupakan vitamin bagi industri kreatif agar tidak terjebak dalam rasa puas yang berlebihan. Sebab pujian yang terus-menerus tanpa keberanian mengoreksi hanya akan melahirkan industri yang gemar bercermin, tetapi lupa memperbaiki wajahnya.

Dalam Islam, keadilan merupakan fondasi setiap penilaian. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. Dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58). Ayat ini mengingatkan bahwa setiap keputusan, termasuk keputusan seorang juri, adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.

Rasulullah SAW pun bersabda: “Hakim itu ada tiga golongan; satu di surga dan dua di neraka. Yang di surga ialah hakim yang mengetahui kebenaran lalu memutuskan dengannya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Meski hadis tersebut berbicara tentang hakim, nilai yang dikandungnya relevan bagi siapa pun yang diberi kewenangan menilai. Seorang juri festival memang tidak memutus perkara hukum, tetapi ia menentukan penghargaan yang akan menjadi bagian dari sejarah perfilman Indonesia. Karena itu, kejujuran lebih berharga daripada kedekatan, objektivitas lebih mulia daripada popularitas.

Selama lima belas tahun, Festival Film Wartawan telah menjadi ruang tempat kritik dan apresiasi berjalan beriringan. Tidak semua keputusan akan memuaskan semua pihak, tetapi setidaknya penilaian yang lahir dari integritas akan selalu lebih dihormati daripada kemenangan yang dibangun di atas kompromi.

Pada akhirnya, piala hanyalah logam yang dipoles indah. Nilai sejatinya terletak pada proses ketika ia diputuskan. Sebab film terbaik bukan selalu yang paling bising dibicarakan, melainkan yang paling lama hidup dalam ingatan, paling jujur memotret manusia, dan paling setia merawat kebudayaan bangsa.