ENTERTAIN

Nusantara Tak Kekurangan Cerita, Film Indonesia yang Perlu Menambah Nyali

17
×

Nusantara Tak Kekurangan Cerita, Film Indonesia yang Perlu Menambah Nyali

Sebarkan artikel ini

 

swarabhayangkara.com. Jakarta – FFHoror bermitra dengan PAS Production menggelar Lets Talk Horror yang merupa Diskusi, Press Conference & Exclusive Screening Film Rarangken, pada Minggu, 25 Oktober 2025
di Kopi Besok Pagi, Kalibata, Jakarta Selatan.

Diskusi menghadirkan narasumber Wan Emily Sjarir, Produser Rarangken,
Tsani Prilia, eksekutif Produser sekaligus pemain Rarangken,  Ambu Rd Sonia Soema  Budayawan  dan Sesepuh Sunda serta Fanny J. Poyk,  Budayawan & Sastrawan.

Sejatinya Indonesia memiliki kekayaan sastra, budaya, folklor, mitologi, mitos, legenda, dongeng, dirkan horor dengan mengangkat mitos dan kepercayaan masyarakat Sunda. Karya ini diharapkan dapat membuka ruang bagi sineas untuk menggali cerita lokal sebagai kekuatan film Indonesia.

Dalam pengumuman pemenang bulanan FFHoror, film Pirunduk meraih penghargaan Film Terbaik. Billy Christian terpilih sebagai Sutradara Terbaik, sedangkan Verly Ikraino meraih penghargaan Penata Kamera atau Director of Photography (DOP) Terbaik melalui film yang sama.

Sementara itu, Baskara Mahendra dinobatkan sebagai Aktor Terbaik lewat film Lubang Buaya, sedangkan Adinda Thomas meraih penghargaan Aktris Terbaik melalui film Orang Bunian.

Menggali Mitos dan Budaya Lokal
Film Rarangken disutradarai R.G.H. dan diproduseri Wan Emily Sjahrir, dengan Tsani Prilia sebagai executive producer.
Cerita berpusat pada Ranti, diperankan Vanny Meisella, yang kembali ke rumah tua peninggalan keluarganya bersama empat sahabat.

Situasi berubah menjadi misterius setelah sebuah benda pusaka bernama Rarangken dipindahkan dari tempatnya. Peristiwa tersebut memicu kemunculan sosok Nyi Larang yang berkaitan dengan tragedi masa lalu. Upaya Ranti menghancurkan benda tersebut justru membuka rahasia keluarga yang telah terkubur selama puluhan tahun.

Melalui kisah ini, Rarangken memadukan teror supranatural dengan misteri keluarga dan kepercayaan masyarakat Sunda.

Banyak pemerhati film nasional, mengapresiasi keberanian Wan Emily Sjahrir dan Tsani Prilia mengangkat budaya lokal sebagai bagian penting cerita film.
Menurut Wan Emily, Indonesia memiliki banyak legenda dan cerita rakyat yang dapat dikembangkan menjadi karya perfilman berkualitas.

Ia juga menyoroti mitos yang berkembang di masyarakat Sunda, termasuk kepercayaan mengenai Sanekala, yang masih terbuka untuk dieksplorasi para sineas.

Emily berharap sineas Indonesia tidak hanya berfokus pada cerita dari daerah tertentu, tetapi juga memberikan ruang bagi kekayaan budaya dari berbagai wilayah Nusantara.

Cuma Mengulang Formula
Lebih jauh Produser Rarangken, Wan Emily Sjahrir, menilai budaya lokal dapat menjadi pembeda bagi film horor Indonesia di tengah persaingan industri hiburan.

“Film itu harus ada pembedanya, kalau sama sebaiknya tak perlu buat tapi nonton saja. Dan bila ingin membuat film harus out of the box, keluar dari kebiasaan terutama dari unsur budayanya,” kata Wan Emily.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa film tidak cukup hanya mengandalkan teror dan kejutan. Cerita yang kuat, identitas budaya, serta kreativitas menjadi unsur penting untuk menghasilkan karya yang berkesan.
Sebab, Indonesia sesungguhnya memiliki modal cerita yang melimpah. Sastra, folklor, mitologi, legenda, dongeng, dan sejarah Nusantara dapat dikembangkan menjadi film horor, fantasi, drama, hingga petualangan.

Sayangnya, potensi itu belum seluruhnya digarap secara maksimal. Kita memiliki banyak cerita leluhur, tetapi sebagian masih tersimpan dalam tradisi lisan dan belum memperoleh tempat yang layak di layar lebar.

Ironisnya, industri film terkadang lebih sibuk mengulang formula lama daripada menggali kekayaan cerita sendiri.

Dalam kesempatan yang sama, penulis Fanny J. Poyk melalui tulisannya berjudul Film Indonesia Dahulu dan Kini menyoroti perubahan industri perfilman nasional di tengah perkembangan teknologi, media sosial, dan kebiasaan menonton masyarakat.

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi sineas untuk terus berinovasi.
Di tengah perubahan tersebut, penggalian budaya lokal dapat menjadi salah satu kekuatan untuk membangun identitas film Indonesia.

Rarangken menghadirkan salah satu upaya tersebut dengan mengangkat mitos Sunda ke dalam cerita horor. Film ini dibintangi Vanny Meisella, Tsani Prilia, Yama Carlos, Ika Kartika, Ambu Rd Sonnia Soema, Achmad Bayhaki A, Taufiq Hidayat, Fardan Tamaela, Zahra Putri, dan Tiara Khoerunnisa.

Melalui film ini, PAS Production turut membuka pembicaraan tentang pentingnya mengembangkan cerita berbasis budaya lokal.

Ambu Sonia menambahkan, Indonesia tidak kekurangan bahan untuk membuat film. Dari legenda Sunda hingga folklor Papua, dari sastra klasik hingga sejarah kerajaan Nusantara, semuanya menyimpan potensi untuk diolah menjadi karya sinema.

Jangan sampai kita lebih sibuk mencari cerita dari negeri lain, sementara kekayaan cerita sendiri justru dibiarkan menjadi dongeng yang terlupakan.

Dalam kesempatan yang sama, juga di umumkan pemenang bulanan FFHoror. Film Pirunduk meraih penghargaan Film Terbaik. Billy Christian terpilih sebagai Sutradara Terbaik, sedangkan Verly Ikraino meraih penghargaan Penata Kamera atau Director of Photography (DOP) Terbaik melalui film yang sama.

Sementara itu, Baskara Mahendra dinobatkan sebagai Aktor Terbaik lewat film Lubang Buaya, sedangkan Adinda Thomas meraih penghargaan Aktris Terbaik melalui film Orang Bunian.

Menggali Mitos dan Budaya Lokal
Film Rarangken disutradarai R.G.H. dan diproduseri Wan Emily Sjahrir, dengan Tsani Prilia sebagai executive producer.
Cerita berpusat pada Ranti, diperankan Vanny Meisella, yang kembali ke rumah tua peninggalan keluarganya bersama empat sahabat. Situasi berubah menjadi misterius setelah sebuah benda pusaka bernama Rarangken dipindahkan dari tempatnya.

Peristiwa tersebut memicu kemunculan sosok Nyi Larang yang berkaitan dengan tragedi masa lalu. Upaya Ranti menghancurkan benda tersebut justru membuka rahasia keluarga yang telah terkubur selama puluhan tahun.

Melalui kisah ini, Rarangken memadukan teror supranatural dengan misteri keluarga dan kepercayaan masyarakat Sunda.

“Saya sangat mengapresiasi Kak Emily selaku produser dan Kak Sani sebagai eksekutif produser. Di usianya yang masih muda, Kak Sani sudah menjadi eksekutif produser dan berani mengangkat budaya Sunda,” ujar Alin yang berlaku sebagai moderator bareng Ncank Mail.