DAERAH

Bupati Banyumas ajak pemuda jaga persatuan dan perkuat budi pekerti

18
×

Bupati Banyumas ajak pemuda jaga persatuan dan perkuat budi pekerti

Sebarkan artikel ini

 

Purwokerto, 28/10  – Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengajak generasi muda untuk menjaga persatuan di tengah keberagaman suku dan budaya serta memperkuat budi pekerti sebagai upaya mencegah perpecahan bangsa.

“Ini Indonesia, bukan Jawa. Kalau kita bicara Indonesia, orang Madura yang tinggal di Banyumas dan ber-KTP Banyumas, ya menjadi orang Banyumas. Begitu juga orang Sunda,” katanya setelah Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-98 di halaman Pendopo Sipanji Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu.

Ia mengatakan Banyumas selama ini menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat dari berbagai latar belakang suku dan etnis untuk hidup berdampingan.

Menurut dia, hal itu menjadi modal penting dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Ia mencontohkan kebersamaan masyarakat lintas suku, termasuk etnis Tionghoa, yang dapat berinteraksi dan beraktivitas bersama di Banyumas tanpa mempersoalkan perbedaan latar belakang.

“Semangat Sumpah Pemuda harus diwujudkan melalui sikap saling menghormati dan kesadaran bahwa keberagaman merupakan bagian dari identitas bangsa Indonesia,” katanya.

Selain persatuan, dia juga mengingatkan generasi muda agar tidak terbiasa mencari jalan pintas dalam meraih cita-cita.

Ia menilai kerja keras dan kesungguhan tetap menjadi kunci untuk mencapai keberhasilan.

“Saya mengingatkan anak-anak muda di sini, ayo kerja keras, jangan hanya mencari jalan pintas,” katanya.

Ia juga menyampaikan keprihatinan terhadap menurunnya sikap hormat dan tata krama di kalangan generasi muda, khususnya dalam hubungan dengan guru dan orang yang lebih tua.

Ia mengatakan Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui Dinas Pendidikan akan mendorong penguatan pendidikan budi pekerti di sekolah melalui muatan lokal.

“Pendidikan agama perlu diimbangi dengan pembelajaran budi pekerti yang menekankan hubungan antar-manusia, seperti sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, dan menjaga perilaku dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.

Ia berpandangan bahwa pembentukan karakter tidak cukup hanya melalui pemahaman keagamaan, juga harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Ia mencontohkan konflik antar-kelompok suporter sepak bola yang justru berujung perkelahian, meskipun mereka mengatasnamakan dukungan terhadap tim yang sama.

“Jadi, saya meminta Dinas Pendidikan agar muatan lokal di Banyumas memiliki satu pembelajaran tentang budi pekerti,” katanya.

Ia mengharapkan penguatan pendidikan karakter sejak dini dapat membentuk generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan dan semangat berprestasi, juga menjunjung tinggi persatuan, menghormati sesama, serta menjaga kerukunan di tengah keberagaman.

(Iqbal)