NASIONAL

Di Tengah Riuh Disrupsi, Hallonews Menyalakan Lentera Fakta

65
×

Di Tengah Riuh Disrupsi, Hallonews Menyalakan Lentera Fakta

Sebarkan artikel ini

swarabhayangkara.com, Jakarta — Di zaman ketika kabar berlari lebih cepat dari nalar, dan layar-layar kecil menjadi panggung segala suara, sebuah nama baru diperkenalkan kepada publik: Hallonews.ID. Ia lahir bukan di ruang sunyi, melainkan di tengah riuh industri media yang terus diguncang disrupsi digital dan persaingan tanpa jeda.

Di Gedung Axa Tower, Jakarta Selatan, Kamis (12/2/2026), peluncuran itu berlangsung bukan sekadar seremoni, tetapi seperti penegasan sikap—bahwa di tengah arus deras informasi, masih ada ruang bagi jurnalisme yang memilih berjalan tegak, bukan tergesa.

Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Akhmad Munir, memandang kehadiran media baru ini sebagai bagian dari upaya menjaga napas panjang pers nasional. Dalam lanskap yang berubah cepat, kata dia, media memang harus lentur mengikuti zaman, tetapi tidak boleh kehilangan tulang punggungnya: etika dan integritas.

“Idealisme jangan sampai kalah oleh tekanan pasar. Wartawan harus tetap menjadi penjaga mutu informasi,” ujarnya.
Baginya, adaptasi teknologi adalah keniscayaan, tetapi kepercayaan publik adalah amanah. Tanpa keduanya berjalan beriringan, pers akan mudah terseret arus—menjadi sekadar gema dari kebisingan.

Senada dengan itu, Brigjen Pol S. Erlangga dari Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) melihat media sebagai mitra strategis dalam menjaga kesehatan ruang publik. Di era ketika hoaks menjelma seperti bayangan yang sulit ditangkap namun nyata dampaknya, sinergi antara media, pemerintah, dan masyarakat menjadi penting.

“Sinergi ini bagian dari menjaga kualitas demokrasi informasi,” ucapnya.
Di sisi redaksi, Pemimpin Redaksi Hallonews.ID, Sumber Rajasa Ginting, menyebut kehadiran Hallonews sebagai ikhtiar menyajikan fakta tanpa kehilangan empati. Mengusung tagline “Menyapa dengan Fakta”, ia menegaskan bahwa medianya ingin hadir bukan hanya sebagai penyampai kabar, tetapi sebagai penjernih makna di balik peristiwa.

“Kami ingin tidak hanya cepat, tetapi juga tepat. Tidak hanya memberitakan, tetapi juga menjelaskan,” katanya.

Direktur Utama Hallonews, Yesaya Christofer, memandang media sebagai ruang belajar bersama. Ia menyebut pers bukan sekadar industri, melainkan ruang dialog antara warga dan para pemangku kepentingan—tempat akal sehat dirawat, dan perbedaan dipertemukan.
“Peluncuran ini bukan seremoni semata, melainkan komitmen menghadirkan jurnalisme yang kredibel di tengah kompetisi yang semakin ketat,” ujarnya.
Dukungan dari berbagai institusi dan korporasi yang hadir dalam peluncuran tersebut menjadi penanda bahwa kehadiran Hallonews diharapkan mampu menjadi simpul kolaborasi dalam ekosistem informasi nasional.

Di era ketika setiap orang dapat menjadi penyiar, tantangan pers bukan lagi sekadar soal kecepatan, melainkan keberanian untuk tetap akurat di tengah tekanan. Hallonews kini memulai langkahnya—membawa harapan sederhana namun tak ringan: agar fakta tidak tenggelam, dan kepercayaan publik tetap menemukan rumahnya.