swarabhayangkara.com, Jakarta — Menjadi pejalan kaki di ibu kota rupanya tak cukup hanya waspada pada kendaraan bermotor.
Di halaman Menara Batavia, ancaman datang dari arah yang lebih filosofis: langit gedung. Seorang warga berinisial HE harus menanggung nasib apes setelah tertimpa pecahan kaca gedung yang lepas, tepat ketika ia baru beberapa langkah meninggalkan mobilnya. Sebuah momen singkat yang berujung trauma panjang.
Peristiwa yang terjadi pada Juni 2025 itu membuat HE menjalani perawatan medis selama dua pekan. Bukan hanya tubuh yang terluka, mobil miliknya pun ikut “kena getah”—bodi kendaraan rusak akibat hantaman kaca.
HE ternyata tidak sendirian. Dua mobil lain mengalami kerusakan serupa, bahkan satu di antaranya harus menerima kenyataan pahit: atap mobilnya berlubang, seolah diuji ketahanannya oleh arsitektur vertikal.
Didampingi kuasa hukumnya, Gamal Muaddi, SH, HE mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Metro Jaya untuk melaporkan kejadian tersebut. Mereka berharap hukum bisa memberi perlindungan ketika manajemen gedung memilih diam. Laporan itu diterima dengan baik, meski HE kembali dihadapkan pada perjalanan birokrasi—disarankan untuk melanjutkan pelaporan ke Polres Metro Jakarta Pusat serta Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan DKI Jakarta.
Ironisnya, sebelum jalur hukum ditempuh, korban mengaku telah berupaya meminta pertanggungjawaban kepada pihak pengelola gedung. Alih-alih mendapat klarifikasi atau empati, yang datang justru somasi. HE pun membalas dengan somasi balik dan menyerahkan perkara ini ke kepolisian, mungkin sebagai pengingat bahwa kaca jatuh bukan bagian dari fasilitas gedung yang tercantum dalam brosur.
Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak pengelola Menara Batavia terkait insiden tersebut. Upaya HE dan kuasa hukumnya untuk meminta penjelasan disebut sudah berulang kali dilakukan, namun tanggapan tetap nihil. Gedungnya berdiri tegak, kacanya mengilap, sementara jawaban menguap entah ke lantai berapa.
Peristiwa ini menjadi catatan pahit tentang keselamatan publik di ruang privat yang ramai dilalui masyarakat. Di kota yang menjulang tinggi, rupanya risiko tidak selalu datang dari jalanan berlubang, tetapi juga dari atas kepala—dan yang lebih tajam dari kaca yang jatuh, terkadang adalah sikap abai setelahnya.(Is)







