swarabhayangkara.com, Jakarta – Perfilman Indonesia lagi-lagi mencoba keluar dari “lorong lama”. Kita tahu lorong itu: penuh bayangan, pintu berderit, dan sosok pucat yang muncul dari balik tirai. Kali ini, lewat Lift produksi Trois Entertainment, teror dipindahkan ke ruang yang jauh lebih sempit—kabin lift yang macet di antara lantai dan tak kunjung bergerak.
Tak ada setan. Tak ada pembunuh berantai.
Hanya interkom berderak pelan… dan ancaman yang lahir dari suara.
Secara konsep, pendekatan minimalis ini mengingatkan pada Phone Booth—satu lokasi, satu sumber ancaman, dan jantung penonton dipaksa berdetak tak wajar. Gagasannya jelas: ketakutan tak selalu butuh wujud; ia cukup hadir sebagai sesuatu yang tak bisa kita kendalikan.
Penasaran dengan gunjingan film ini, Dewan Juri FFH bahkan nobar bareng selebritas Aline Maarif—yang malam itu tampil anggun—untuk mengulik seberapa jauh keberanian Lift benar-benar mendarat.
Teror yang Tertahan di Antara Lantai
Kisahnya berakar pada tragedi enam tahun lalu: Gabriel, Direktur Utama PT Jamsa Land, tewas dalam insiden penuh tanda tanya. Luka tampak mengering—sampai kini perusahaan kembali diguncang saat Hansen (Verdi Solaiman), direktur baru, menghilang tanpa jejak.
Di tengah kekacauan, Linda (Ismi Melinda) terjebak di dalam lift bersama Anton (Max Metino), mantan jurnalis yang kini menjadi podcaster. Lift macet. Sinyal putus. Sebuah suara asing dari interkom mulai mendikte. Permainan dimulai.
Ketegangan meningkat ketika Linda sadar anaknya, Jonathan, disandera. Di luar gedung, Doris (Shareefa Daanish) menerima pesan misterius yang memaksanya datang ke kantor di tengah malam—seolah masa lalu menjemputnya paksa.
Premisnya padat. Potensinya besar. Misterinya mestinya menggigit.
Namun, gigitan itu tak selalu terasa.

Naskah Ambisius, Ritme Tersendat
Ruang sempit adalah metafora kuat—tentang rasa bersalah, rahasia korporasi, trauma yang dikunci rapat. Lift punya semua bahan untuk jadi thriller psikologis yang menggetarkan.
Sayangnya, naskah seperti menekan terlalu banyak tombol sekaligus. Alur maju-mundur yang diniatkan jadi jebakan twist malah terasa seperti lorong bercabang tanpa petunjuk arah. Informasi datang sepotong-sepotong—tajam, tapi tak selalu menyatu. Penonton lebih sibuk merapikan puzzle daripada tenggelam dalam emosi.
Dialog yang terdengar puitis di momen genting kadang terasa artifisial. Saat hidup dipertaruhkan, metafora tak selalu terdengar manusiawi. Film ini ingin membahas korupsi, manipulasi, trauma, hingga moralitas—namun tak satu pun digali sampai benar-benar dalam.
Sebagai pembanding, film seperti Buried membuktikan bahwa satu ruang (peti mati) bisa jadi neraka yang efektif jika ritmenya presisi. Atau The Guilty yang memaksimalkan suara dan imajinasi untuk membangun ketegangan. Lift berada di jalur yang sama, hanya saja eksekusinya belum setajam dua contoh itu.
Aktor Hebat, Karakter Terbatas
Nama Shareefa Daanish identik dengan karakter intens dan berlapis. Namun penulisan Doris yang berubah-ubah membuat performanya terasa kurang menggigit—mudah ditebak, bahkan terkesan basi. Karakter ini semestinya lebih terluka dan dingin; tangisan dan semburan emosi mungkin akan membuatnya lebih hidup. Ada yang berseloroh: jangan-jangan ini soal casting—karena karisma Teuku Rifnu Wikana terasa lebih pas untuk sosok sekeras itu.
Verdi Solaiman tampil tenang dan terukur. Ismi Melinda dan Max Metino berupaya menjaga dinamika di ruang lift yang menjadi pusat cerita. Namun dialog yang terlalu verbal kadang justru mengaburkan ketokohan. Sementara Teuku Rifnu Wikana—aktor dengan karisma kuat—hanya muncul sejenak, seperti lampu darurat yang menyala lalu padam. Potensi besar, waktu layar terbatas.
Eksperimen yang Tetap Layak Dicatat
Terlepas dari kekurangannya, Lift patut diapresiasi sebagai eksperimen. Di tengah gempuran horor penuh penampakan, film ini memilih jalur sunyi—thriller psikologis yang lebih berisiko.
Sisipan komedi untuk mencairkan suasana sayangnya sering tak tepat sasaran; ketika ketegangan mulai menanjak, humor justru memecah konsentrasi.
Namun satu fakta tak terbantahkan: penonton datang bergelombang. Tiket pemutaran awal ludes dalam hitungan jam. Strategi harga Rp10.000 via tix.id pada awal pekan membuat film ini terasa dekat dan terjangkau. Sejak tayang 26 Februari 2026, Lift memantik diskusi. Dan dalam dunia film, percakapan adalah napas kedua setelah layar padam.
Di Antara Keberanian dan Ketidaktuntasan
Lift berani melawan arus—sebuah horor tanpa hantu, ketegangan tanpa penampakan. Ia punya ide kuat dan atmosfer menjanjikan. Hanya saja, seperti kabin yang berhenti di antara lantai, film ini terasa belum benar-benar turun ke kedalaman rasa yang menghantam dada.
Bagi yang lelah dengan arwah gentayangan dan jumpscare repetitif, Lift tetap alternatif menarik. Karena kadang, yang paling menakutkan bukan makhluk yang muncul tiba-tiba—melainkan suara pelan dari interkom:
“Jangan bergerak.”
Siap terjebak? Atau… sudah pusing duluan?







