DAERAH

Pemprov Maluku luncurkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

10
×

Pemprov Maluku luncurkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

Sebarkan artikel ini

 

Ambon, 14/7 – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku menggandeng Institut Leimena meluncurkan program Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) berbasis Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) untuk memperkuat pendidikan karakter, toleransi, dan budaya damai di lingkungan sekolah.

Sekretaris Daerah Maluku Sadali Ie di Ambon, Senin (13/7), mengatakan program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah membangun budaya sekolah yang menghargai keberagaman dan memperkuat kerukunan.

“Budaya sekolah aman dan nyaman ini penting untuk membangun karakter anak sejak dini. Dengan keberagaman agama dan suku di Provinsi Maluku, kita ingin sekolah menjadi ruang yang menanamkan nilai toleransi, saling menghormati, dan memperkuat semangat orang ‘basudara’ (persaudaraan),” katanya.

Ia menjelaskan implementasi BSAN berbasis LKLB tidak hanya berorientasi pada peningkatan capaian akademik, tetapi juga memastikan seluruh peserta didik merasa diterima, dihargai, dilindungi, dan memperoleh kesempatan berkembang secara optimal.

Menurut dia, sekolah harus menjadi tempat yang membahagiakan sehingga anak-anak dapat belajar dengan rasa aman, percaya diri, dan semangat dalam meraih cita-cita.

Sadali mengatakan Pemerintah Provinsi Maluku mengapresiasi kolaborasi bersama Institut Leimena, Inovasi dan Sasawaka Peace Foundation karena program tersebut dinilai selaras dengan upaya penguatan sumber daya manusia yang menjadi prioritas pembangunan daerah.

“Kami berharap anak-anak Maluku tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak mulia, menghargai perbedaan, hidup berdampingan, dan menjaga kerukunan sebagai modal membangun Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho mengatakan peluncuran BSAN berbasis LKLB sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.

Menurut dia, regulasi tersebut menegaskan bahwa tujuan pendidikan nasional bukan hanya menghasilkan sumber daya manusia yang cakap dan kreatif, tetapi juga membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, serta memiliki tanggung jawab sosial.

“Budaya Sekolah Aman dan Nyaman menjadi penting karena tujuan pendidikan adalah memuliakan martabat kemanusiaan. Sekolah harus menjadi miniatur Indonesia, tempat seluruh warga sekolah belajar menghargai perbedaan, berkolaborasi, dan menerima setiap orang sebagai manusia yang bermartabat,” katanya.

Ia menjelaskan konsep BSAN melibatkan berbagai pemangku kepentingan mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, orang tua, masyarakat, hingga media karena penciptaan lingkungan belajar yang aman merupakan tanggung jawab bersama.

Menurut Matius, penguatan kompetensi sosial melalui LKLB juga sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi Maluku dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya melalui peningkatan kompetensi kepala sekolah dan guru.

Ia mengatakan program LKLB diluncurkan Institut Leimena pada akhir 2021 sebagai pelatihan bagi guru sekolah dan madrasah. Hingga kini program tersebut telah meluluskan lebih dari 11.000 pendidik dalam 77 angkatan yang berasal dari 38 provinsi.

Institut Leimena, lanjutnya, juga telah bermitra dengan lebih dari 40 lembaga pendidikan dan keagamaan serta bekerja sama dengan empat kementerian, yakni Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, Kementerian Hukum, dan Kementerian Luar Negeri.

Khusus di Maluku, program LKLB mulai dijalankan pada 2024 bekerja sama dengan Sasakawa Peace Foundation dan sejumlah mitra lokal, antara lain YPPK Dr. J.B. Sitanala, Yayasan Sombar Negeri Maluku, Gereja Protestan Maluku, IAKN Ambon, UIN A.M. Sangadji Ambon, dan Yayasan Al Fatah Ambon.

“Kami berharap Maluku dapat menjadi inspirasi, bukan hanya bagi Indonesia tetapi juga dunia, dalam membangun budaya damai melalui pendidikan,” ujarnya.

(ode)